Sabtu, 06 Desember 2008

cobak

Archive for November, 2007

Konservasi Energi???

Thursday, November 1st, 2007

Bagi negara yang tercatat
dalam Protokol Kyoto, konservasi energi, yang berarti suatu permintaan
untuk mengurangi pemakaian energi, menjadi keharusan yang mesti dipenuhi.

Usaha konservasi energi tidak
hanya diterapkan pada sistem desain baru tetapi juga pada sistem lama dengan
catatan selama sistem tersebut memenuhi kondisi penghematan energi atau
konsumsi energi minimum yang dapat memuaskan kebutuhan pemakai dan negara. Masyarakat
Indonesia tergolong konsumen yang sangat boros dalam penggunaan energi listrik
jika dibandingkan dengan negara lain. Akibatnya, pemakaian listrik meningkat
cukup tajam dari tahun ke tahun, tidak sesuai dengan pertumbuhan penggunaan
energi listrik.

Melihat perkembangan dan fakta di
lapangan pada 2003 dan tahun-tahun berikutnya, kondisi 2006 akan semakin parah.
Kekhawatiran itu muncul karena hanya terdapat beberapa tambahan pasokan listrik
saja, sedangkan permintaan pemakai energi listrik akan terus meningkat.

Sementara itu, cadangan minyak bumi
Indonesia pada 2002 kurang lebih sebesar 9 miliar barel dengan kuota ekspor 1,5
juta barel/hari dan kebutuhan Indonesia mencapai 1 juta barel/ hari. Kondisi
tersebut diperkirakan pada 2010 kuota ekspornya tetap, tapi kebutuhan domestik
meningkat menjadi 1,8 juta barel/hari. Asumsi ini sekaligus menunjukkan
kemungkinan bahwa cadangan minyak Indonesia akan habis pada tahun 2020. Padahal
minyak bumi merupakan salah satu bahan baku utama pasokan energi listrik.

Salah satu serapan energi listrik yang
besar terdapat pada bangunan gedung bertingkat. Di Indonesia, berdasarkan
standar pada comercial building, kebutuhan energi setiap tahunnya adalah
246 kWh/m2. Belum ada gedung di Indonesia yang menggunakan energi di
bawah angka itu. Pada 1998, menurut survai yang dilakukan IAFBI (Ikatan Ahli
Fisika Bangunan Indonesia), rata-rata gedung di Jakarta menghabiskan 310 kWh/m2
setiap tahunnya. Sebagai gambaran betapa borosnya pemakaian energi
listrik di Indonesia, pada tahun yang sama Singapura hanya menggunakan 210
kWh/m2 per tahunnya.

Upaya mengatasi krisis energi

Meskipun energi terbarukan melimpah di
Indonesia, seperti energi surya, angin, mikrohidro, geotermal, dan biomasa,
namun masih sangat minim pemakaiannya, diperkirakan 10 tahun mendatang hanya 10
sampai 20 persen pasokan energi listrik berasal dari energi terbarukan
tersebut. Dan kondisi saat ini pemanfaatan energi terbarukan itu hanya satu
persen saja.

Ada beberapa upaya yang telah dilakukan
di Indonesia untuk mengatasi krisis energi. Pemakaian lampu hemat energi atas
kerja sama PT. GE Lighting Indonesia dan PLN, yang dapat menghemat pemakaian
energi listrik sebesar 80% dan perencanaan gedung hemat energi “Graha Pangeran”
di Surabaya oleh Jimmy Priatma. Penghematan energi yang dicapai dari hasil
rancangan pada gedung yang disebut terakhir sebesar 65%.

Kunci penghematan energi pada
gedung-gedung tinggi adalah dengan penggunaan listrik untuk AC dan penerangan
dapat ditekan serendah mungkin, karena penggunaaan energi di gedung bisa
mencapai 90% untuk AC dan penerangan. Sebagai contoh pada wilayah DKI Jakarta,
jumlah gedung berdasarkan data tahun 2000 sebanyak 960.000 gedung, dan 1000
gedung di ataranya adalah gedung berlantai lima ke atas. Berdasarkan survei
yang telah dilakukan oleh IAFBI, dari 500 gedung berlantai delapan yang menjadi
obyek penelitian, baru 10% atau 50 gedung di Jakarta yang menggunakan energi
mendekati angka standar.